Error message

Notice: Undefined offset: 1 in counter_get_browser() (line 70 of /home/bpsdmdjateng/public_html/v1/sites/all/modules/counter/counter.lib.inc).

Cara kreatif dan Inovatif Pendisiplinan Pegawai Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah - Didik Singgih Hadi, SE, M.Si

CARA KREATIF DAN INOVATIF PENDISIPLINAN PEGAWAI BADAN DIKLAT PROVINSI JAWA TENGAH

Oleh :
 Didik Singgih Hadi, SE, MSi
 
Abstrak

Dengan dikeluarkanya Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 51 tahun 2013 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 38 Tahun 2009 Tentang Pemberian Tambahan Penghasilan Kepada Para Pejabat dan Pegawai Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan inspirasi kepad para pemamngku kepentingan di Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah untuk mengasah fikiran mendisiplinkan Pegawinya dengan cara kreatif dan Inovatif dengan menerapkan presensi screen touch/ finger touch atau presensi yang harus di sentuh dengan jari telunjuk atau jari tengah. Dengan adanya penerapan system presensi pegawai mempergunakan finger touch kedisiplinan 158 Pegawai Negeri SIpil dan 55 Pegawai honorer meningkat tinggi dibandingkan tanpa finger touch, sehingga Pemberian Tambahan Penghasilan Kepada Para Pejabat dan Pegawai Pemerintah di Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Jawa Tengah sangat bisa dipertanggungjawabkan.

Kata Kunci : Kreatif, Inovatif
 

I.           PENDAHULUAN

Sejak November 2013 Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melaksanakan Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 51 tahun 2013 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 38 Tahun 2009 Tentang Pemberian Tambahan Penghasilan Kepada Para Pejabat dan Pegawai Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Apa beda Pergub 51/2013 dengan empat Pergub sebelumnya? Dan apa pula persamaannya?

Perbedaanya terletak pada nilai rupiah yang diterima Para Pejabat dan Pegawai Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Persamaannya terletak pada Pemberian Tambahan Penghasilan di luar gaji. Pemberian Tambahan Penghasilan ini diberikan pada tanggal 20 setiap bulannya atas kedisiplinan Para Pejabat dan Pegawai Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Semua Pejabat dan Pegawai Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) mendapatkan Pemberian Tambahan Penghasilan tanpa kecuali tanpa pandang bulu?

Apa perbedaan antara Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Jawa Tengah dengan SKPD lain? Jawabannya adalah cara pendisiplinan Para Pejabat dan Pegawainya. Cara yang seperti apa itu? Itulah yang dibahas di bawah ini dengan cara kreatif dan inovatif khas Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah.

 

II.         PEMBAHASAN

Sebelum jauh mengimplementasikan cara kreatif dan inovatif khas Badan Diklat Provinsi. Perlu ada tinjauan tentang definisi kreatif dan inovatif. Kreatif berarti memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan. Kreatifitas memiliki makna mengubah sesuatu dengan kreatif. â€œKreatifitas adalah kemampuan untuk menentukan pertalian baru, melihat subjek dari perspektif baru, dan menentukan kombinasi-kombinasi baru dari dua atau lebih konsep yang telah tercetak dalam pikiran” (James R. Evans, 1994). Sedang Inovatif yaitu Kemampuan seseorang dalam mendayagunakan kemampuan dan keahlian untuk menghasilkan karya baru. Dari definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa, kreatif dan inovatif itu sangatlah diperlukan dalam kehidupan sehari hari. Karena kreatif dan inovatif itu sangat menentukan kualitas hidup kita. Apalagi dalam bidang kewirausahaan, kita dituntut untuk memiliki jiwa yang kreatif inovati karena keduanya akan menentukan hasil usaha kita.

Cara Kreatif dan Inovatif yang diimplementasikan Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah terhadap Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 51 tahun 2013 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 38 Tahun 2009 Tentang Pemberian Tambahan Penghasilan Kepada Para Pejabat dan Pegawai Pemerintah Provinsi Jawa Tengah adalah dengan cara mendisiplinkan Pegawainya. Jumlah Pegawai Badan Diklat Prov Jateng adalah  198 berstatus PNS, sedangkan honorernya berjumlah 55. Baik PNS maupun honorernya memiliki kewajiban yang sama dalam melaksanakan kedisiplinan kerja. Kedisiplinan kerja yang dimaksud disini adalah masuk kerja jam 07.00 dan selesai kerja jam 15.30 pada hari Senin hingga Kamis. Sedangkan pada hari Jumat masuk kerja jam 07.00 selesai jam 11.00.

Kedisiplinan masuk dan pulang kerja inilah yang disentuh dengan cara kreatif dan inovatif oleh Badan diklat Provinsi Jawa Tengah atas dasar Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 51 tahun 2013. Badan Diklat   menerapkan screen touch/ finger touch atau presensi yang harus di sentuh dengan jari telunjuk atau jari tengah.

Untuk bisa access (mempergunakan) terhadap mesin screening dilakukan terlebih dahulu indentifikasi terhadap seluruh PNS dan Honorer yang ada di Badan Diklat. Sebanyak 253 Pegawai Badan diklat didaftar dahulu jari telunjuk dan jari tengah kanannya sebagai identitas diri masing masing. Identitas jari ini tidak akan ada kembaranya di Badan diklat bahkan di dunia. Setiap pegawai satu identitas. Dengan adanya rekaman identitas ini mesin akan secara otomatis menerima kehadiran Pegawai yang melakukan sentuhan pagi sebagai tanda masuk kantor dan sentuhan sore atau siang sebagai tanda pulang kantor.

Sekelumit kami ambilkan referensi cara kerja finger print yang saya ambil dari internet (http://ilmuawi.blogspot.com/2010/12/cara-kerja-mesin-absen-finger-print....) :

Sebuah absensi scanner memiliki dua pekerjaan, yakni mengambil gambar sidik jari Anda, dan memutuskan apakah pola alur sidik jari dari gambar yang diambil sama dengan pola alur sidik jari yang ada di database. Ada beberapa cara untuk mengambil gambar sidik jari seseorang, namun salah satu metode yang paling banyak digunakan saat ini adalah optical scanning. Inti dari scanner optical adalah charge coupled device (CCD), sistem sensor cahaya yang sama digunakan pada kamera digital dan camcorder. CCD merupakan sebuah larik sederhana dari diode peka cahaya yang disebut photosite, yang menghasilkan sinyal elektrik yang merespon foton cahaya. Setiap photosite merekam sebuah pixel, titik kecil yang merepresentasikan cahaya dan membenturnya. Pixel-pixel ini membentuk pola terang dan gelap dari sebuah gambar hasil scan sidik jari seseorang.

Proses scan mulai berlangsung saat Anda meletakkan jari pada lempengan kaca dan sebuah kamera CCD mengambil gambarnya. Scanner memiliki sumber cahaya sendiri, biasanya berupa larik light emitting diodes (LED), untuk menyinari alur sidik jari Anda. Sistem CCD menghasilkan gambar jari yang terbalik, area yang lebih gelap merepresentasikan lebih banyak cahaya yang dipantulkan (bagian punggung dari alur sidik jari), dan area yang lebih terang merepresentasikan lebih sedikit cahaya yang dipantulkan (bagian lembah dari alur sidik jari). Sebelum membandingkan gambar yang baru saja diambil dengan data yang telah disimpan, processor scanner memastikan bahwa CCD telah mengambil gambar yang jelas dengan cara melakukan pengecekan kegelapan pixel rata-rata, dan akan menolak hasil scan jika gambar yang dihasilkan terlalu gelap atau terlalu terang. Jika gambar ditolak, scanner akan mengatur waktu pencahayaan, kemudian mencoba pengambilan gambar sekali lagi.

Jika tingkat kegelapan telah mencukupi, sistem scanner melanjutkan pengecekan definisi gambar, yakni seberapa tajam hasil scan sidik jari. Processor memperhatikan beberapa garis lurus yang melintang secara horizontal dan vertikal. Jika definisi gambar sidik jari memenuhi syarat, sebuah garis tegak lurus yang berjalan akan dibuat di atas bagian pixel yang paling gelap dan paling terang. Jika gambar sidik jari yang dihasilkan benar-benar tajam dan tercahayai dengan baik, barulah processor akan membandingkannya dengan gambar sidik jari yang ada dalam database.

Perlu diajungi jempol upaya kreatif dan inovatif yang dilakukan Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah dalam mendisiplinkan Pegawainya dalam melaksnakan pekerjaan. Sehingga ekses titip presensi (titip absen) bisa diminimalkan. Presensi tidak bisa diwakilkan. Karena tidak ada jari yang sama identitasnya di Badan diklat ini bahkan di dunia sekalipun. Sisitem ini mulai dipergunakan secara wajib oleh semua Pegawai badan diklat pada akhir April 2014. Pada periode sebelumnya sudah diupayakan adanya penggunaan finger touch ini namun dukungan system kurang memadai sehingga hasilnya kurang memuaskan. Hingga saat ini kecanggihan mesin finger touch sangat mumpuni. Telepon genggam (HP) pegawai Badn Diklat akan mendapat sms apabila belum melakukan sentuhan presensi.

Walaupun demikian tetap saja ada kelemahan, karena ini adalah program computer hanya orang yang paham tentang finger touchlah yang mengetahui. Ini merupakan sifat yang melekat dalam pelaksaan system. Setiap system jelas melekat kekuatan dan kelemahan. Namun Kelemahan finger touch dapat diminimalisir.

Dari sisi PNS dan Pegawai honorer berharap bahwa Pemberian Tambahan Penghasilan setiap bulannya tidak dipotong. Sesuai dengan pangkat/golongan atau jabatan yang dimiliki. Pegawai Honorer dan Golongan I mendapat Rp 1.950.000 Golongan II Rp 2.100.000  Gol III Rp 2.750.000 Gol IV Rp. 3.150.000  Eselon IV Rp.3.650.000 Eselon III Rp.5.550.000 Eselon II Rp.9.350.000. Ketidak disiplinan masuk atau pulang kerja ada konsekuensi pemotongan Pemberian Tambahan Penghasilan. Besarnya ketidak disiplinan masuk atau pulang kerja terhadap Pemberian Tambahan Penghasilan tidak dibahas disini.

Belum semua Satuan Kerja Perangkat Derah (SKPD) di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah   menerapkan presensi Pegawainya dengan finger touch seperti Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah. Apabila system ini baik silahkan untuk dicontoh dan diterapkan pada SKPDnya, yang jelas system ini memberikan efek positif pada kedisiplinan masuk dan kedisiplinan pulang kerja pegawainya. Sukses dan Selamat untuk Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah.  

 
III.       PENUTUP

Dengan adanya penerapan system presensi pegawai mempergunakan finger touch kedisiplinan 158 Pegawai Negeri SIpil dan 55 Pegawai honorer meningkat tinggi dibandingkan tanpa finger touch, sehingga Pemberian Tambahan Penghasilan Kepada Para Pejabat dan Pegawai Pemerintah di Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Jawa Tengah sangat bisa dipertanggungjawabkan.

Apabila ada Satuan Kerja Perangkat Daerah menginginkan penerapan system presensi dengan finger touch/screen touch silahkan menghubungi Sekretariat dan Sub Bagian Kepegawaian Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah untuk bisa mengadopsi system tersebut. Beliau – beliaulah “arsitek” dibelakang kesuksesan cara kreatif dan inovatif penerapan presensi finger touch.  

---------------------------------
 
Referensi

..............., Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 51 tahun 2013 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 38 Tahun 2009 Tentang Pemberian Tambahan Penghasilan Kepada Para Pejabat dan Pegawai Pemerintah Provinsi Jawa Tengah

Carol Kinsey Goman. 1999, Kreativitas Dalam Bisnis, Binarupa Aksara, Jakarta.

Drucker, Peter F. 1996, Inovasi dan Kewirausahaan, Erlangga, Jakarta.

Danuhadimedjo, R.Djatmiko. 1998. Kewiraswastaan dan Pembangunan, Alfabeta, Bandung

Geoffrey G. Meredith, et al. 2000, Kewirausahaan Teori dan Praktek. Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta.

Hakim, Rusman, 1998, Dengan Wirausaha Menepis Krisis (Konsep Membangun Masyarakat Entrepreneur Indonesia), PT Elex Media Komputindo Gramedia Jakarta.

Harefa, Andreas., Inovasi Kewirausahaan (Kecerdasan Emosi Wirausaha) http://www.ekafood.com/cerdasemosi.htm

Kao, John. 1989. Entrepreneurship, Creativity and Organization, Taxs, Cases and Readings, Englewood cliffs, New Jesey, Prentice Hall.

Kuratko, Donal F. and Richard M, Hodgets, 1995. Entrepreneurship, A. Contemporary Approach, 3rd ed, the Dryden Press.

Lupiyoadi Rambar, Jero Wacik, 1988. Wawasan Kewirausahaan, (Cara Mudah Menjadi Wirausaha), Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Soemanto, Wasty, 1984, Pendidikan Wirausaha (Sekuncup  Ide Profesional) , Bina Aksara, Malang.

Tedjasutisna, Ating 2004. Memahami Kewiraushaan. Armico, Bandung.

Wijandi, Soesarsono, 1988, Pengantar Kewiraswastaan, Sinar  Baru, Bandung

--------------------------------------